Selasa, 12 Agustus 2014

Menyambung Tali Silaturahim Yang Terputus

MENYAMBUNG TALI SILATURAHIM YANG TERPUTUS

Makna silaturahim secara bahasa adalah dari lafadz rahmah yang berarti lembut dan kasih sayang.

Abu Ishak berkata: "Dikatakan paling dekat rahimnya adalah orang yang paling dekat kasih sayangnya dan paling dekat hubungan kekerabatannya". [Lihat Lisanul Arab (5/174) bab Dzal wa Ra’.]

Imam Al Allamah Ar Raghib Al Asfahani berkata bahwa Ar Rahim berasal dari rahmah yang berarti lembut yang memberi konsekwensi berbuat baik kepada orang yang disayangi.[ Lihat Mufradatul Qur'an Hal (346)]

Karena itu , Ayuhal ikhwah wal akhwat Hiasilah hubungan dengan kerabatmu untuk mencari ridha Allah. Dengan bersilaturahim, keberkahan umur dan rizki akan diraih dan derajat mulia akan tercapai di sisi Allah. Ketauhilah, silaturahim dengan sanak kerabat dan famili merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Allah.

Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

"Barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan ditambah umurnya, maka hendaklah melakukan silaturrahim".[ Lihat sahih Abu Daud (1486), sahih Adabul Mufrad (56) Sahih Muslim bab Al Birru Wassilah hadits ke 20.]

Silaturrahim yang hakiki bukanlah menyambung hubungan baik terhadap orang-orang yang telah berbuat baik terhadap kita. Namun, silaturrahim yang sebenarnya ialah menyambung hubungan dengan orang-orang yang telah memutuskan tali silaturahim dengan kita.

Dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلَ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

"Sesungguhnya bukanlah orang yang menyambung silaturahim adalah orang yang membalas kebaikan, namun orang yang menyambung silaturahim adalah orang yang menyambung hubungan dengan orang yang telah memutuskan silaturahmi". [ Lihat SahihAdabul Mufrad (68) bab laisal wasil bil mukafi’]

Krn orang yg memutuskan tali silaturrahim akan masuk kedalam neraka, sebagaimana disebutkan dalam hadist :

Dari Jubair bin Muth’im bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ


"Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan kerabat.".[ HR Imam Bukhari dalam sahihnya dalam kitabul Adad bab Istmul Qathi’ (5984), Muslim dalam sahihnya kitabul birry bab Silaturrahim (6467) dan Abu Daud Dalam sunannya (1696)]

Dengan menyambung tali silaturahim dengan orang yang memutuskannya semoga bisa menjadi sebab bagi kita untuk menyelamatkan orang yang diancam neraka sesui hadist diatas .

Diringkas dr tulisan : Ustadz Abu Ahmad Zaenal Abidin
Yang di muat di : http://almanhaj.or.id/

Semoga bermanfaat
أَسْعَدَ اللّهُ اَيَّامَكُمْ
Semoga Allah Ta'alaa menjadikan hari-harimu penuh dgn kebahagiaan .

Menjadi Orang Yang Pemaaf

BERUSAHA MENJADI ORANG YANG PEMAAF ...

Diantara kita pasti pernah disakiti/menyakiti orang lain, menganggu/diganggu orang lain, bermasalah dengan sanak saudara yang akhirnya tidak bertegur sapa bahkan memutuskan tali persaudaraan, meminta maaf dan mau memaafkan kadang terasa berat apalagi jika egoisme bercokol dalam diri kita dan merasa benar dan tidak mau intropeksi diri .

Padahal mudah memaafkan, penyayang terhadap sesama Muslim dan lapang dada terhadap kesalahan orang lain merupakan amal shaleh yang keutamaannya besar dan sangat dianjurkan dalam Islam. Allah Azza wa Jalla berfirman.

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan perbuatan baik, serta berpisahlah dari orang-orang yang bodoh. [al-A’raf/7:199]

Dalam ayat lain, Allah Azza wa Jalla berfirman.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah, kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. [Ali Imran/3:159]

Bahkan sifat ini termasuk ciri hamba Allah Azza wa Jalla yang bertakwa kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya.

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ


(Orang-orang yang bertakwa adalah) mereka yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya serta (mudah) memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. [Ali-Imran/3:134]

Semoga kita bisa menjadi orang yang mudah minta maaf ketika berbuat salah kepada sesama , jika kepada kepada Allah dgn bertaubat dan memohon amun dan mudah memaaafkan kesalahan orang lain dan berlapang dada dan suka memberikan udhur kepada sesama saudara kita

Semoga bermanfaat

أَسْعَدَ اللّهُ اَيَّامَكُمْ
Semoga Allah Ta'alaa menjadikan hari-harimu penuh dgn kebahagiaan .

Senin, 11 Agustus 2014

Hanya Satu Jalan Dalam Memahami Agama

HANYA SATU JALAN DALAM MEMAHAMI AGAMA..

لا رجوع إلى الدين إلابالعلم
Tidak mungkin kembali kepada agama islam kecuali dengan ilmu .

ولاقيام للعلم إلابالكتاب والسنة

Dan tidaklah tegak ilmu itu kecuali dengan Al Qur'an dan As Sunnah

ولاسبيل إلى فهم الكتاب والسنة إلا وفق منهج سلف هذه الأمة.

Dan tidak ada jalan (yg benar) untuk memahami (dan mengamalkan) Al Qur'an dan As Sunnah kecuali yang sesui dengan manhaj (metode) generasi salaf dari umat ini (sahabat Nabi, Tabi"in dan Tabi'ut Taabii'in serta Ulama' setelahnya) dalam memahami dan menerapkan agama islam dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Allah Ta’ala berfirman:

{ وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا} [النساء: 115]

Artinya: “Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisa’: 115)

Perhatikanlah perkataaan para ulama dan imam berikut ini :

قال الإمام أحمد : " من علم طريق الحق سهل عليه سلوكه , ولا دليل على الطريق إلى الله إلا متابعة الرسول صلى الله عليه وسلم في أحواله وأقواله وأفعاله" مدارج 2/486, مفتاح دار السعادة (1/165).

Berkata imam Ahmad " barang siapa mempelajari jalan kebenaran maka akan dimudahkan baginya dalam menapakinya , dan tidak ada petunjuk jalan utk menuju Allah kecuali dgn mengikuti Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam segala hal baik dalam keadaan (penampilan), perkataan maupun perbuatan beliau " (madarijus Salikin 2/486, Miftah darus sa'adah 1/165))

قال ابن أبي العز: " والعبادات مبناها على السنة والإتباع لا على الهوى والابتداع " شرح الطحاوية ص/37 وانظر الفتاوى لإبن تيمية (4/170)

Berkata Ibnu Abi Al 'izzi : " dan ibadah dibagun diatas sunnah dan ittiba' (mengikuti tata cara Rasulullah) bukan diatas hawa nafsu dan bid'ah (mengada-ada dan merekayasa) " Syarh Al thohawiyyah hal.37 , dan lihat Al Fatawa Ibnu Taimiyyah (4/170))

قال الشيخ الفاضل بكر أبو زيد:\" أصل كلّ بليّة في العلم من معرضة النص بالرأي, وتقديم الهوى على الشرع " الردود ص/60,37

Berkata As Syeikh Al Fadhil Bakr Abu Zaid " sumber dari segala bencana dalam ilmu adalah krn menpertentangkan nash ( Al Qur'an & As Sunnah) dengan Akal, dan lebih mendahulukan hawa nafsi dari pada syari"at ( Ar. Rudud hal: 37, 60)

قال ابن تيمية : "من فارق الدليل ضلّ السبيل, ولا دليل إلا بما جاء به الرسول صلى الله عليه وسلم " مفتاح دار السعادة (1/85), مدارج (2/361)


Berkata Ibnu Taimiyyah. " Barang siapa berpisah ( meningalkan) dalil ( Al Qur'an dan As sunnah) maka dia akan tersesat jalannya, dan tidak ada dalil kecuali apa yg datang dengannya Rasulullah صلى الله عليه وسلم. ( Miftah Darus Sa'adah (1/85) Madarijus Saliqin ( 2/361)

فالحمد لله على نعمة الإسلام والسنة.


Segala puji bagi Allah atas nikmat islam dan sunnah nabi

Semoga bermanfaat ..
أَسْعَدَ اللّهُ اَيَّامَكُمْ
Semoga Allah Ta'alaa menjadikan hari-harimu penuh dgn kebahagiaan .

اُحِبُّكم فِيْ الّلهِ
سُلَيْمَان اَبُوْ شَيْخَه

Apa Yang Harus Dikerjakan dan diucapkan Setelah melakukan Dosa

ما يقول ويفعل من أذنب ذنبا
Apa Yang Harus Dikerjakan dan diucapkan Setelah melakukan Dosa
-----------------

Sebagaimana manusia, pasti diantara kita pernah bahkan mungkin sering melakukan kesalahan, dosa dan maksiyat kepada Allah, krn tidaklah disebut an naas (manusia) likasrotu nisyanihi ( kecuali krn banyak melakukan kealfaan dan kesalahan ) , namun seorang muslim ketika melakukan kesalahan maka dia akan segera menyesali perbuatan tersebut dan ingin kembali bersih dr dosa dan maksiyat

Lantas apa yg harus kita kerjakan agar dosa maksiyat tersebut diampuni oleh Allah ?

Rosulullah telah memberikan solusi agar Allah mengampuni dosa kita, berikut hadist tsb :

ما من عبد يذنب ذنبا فيحسن الطهور، ثم يقوم فيصلي ركعتين، ثم يستغفر الله إلا غفر الله له وصححه الألباني في صحيح أبي داود، ١/٢٨٣


Tidaklah seorang hamba melakukan suatu dosa, kemudian dia bersuci (berwudhu) dengan sebaik-baiknya, dilanjutkan dgn shalat dua rakaat dan bertaubat serta memohon ampun kepada Allah kecuali Allah akan ampuni dosanya . (Hadist Abu Dawud /1283 dan dishahihkan Oleh Al Albany . )

أستغفر الله العظيم الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه

Aku memohon Ampun kepada Allah yang Maha Agung yg tiada Tuhan yg berhak disembah kecuali Dia Dzat Yg Maha Hidup lagi Berdiri sendiri , dan Aku bertaubat kepada - Nya

semoga Allah menerima semua amal ibadah kita , dan mengampuni semua dosa dan kesalahan kita , Semoga bermanfaat ..

أَسْعَدَ اللّهُ مَسَائَ كُمْ وَ لَيْلكم

Semoga Allah menjadikan sore dan malam kalian penuh dengan kebahagiaan .

Minggu, 27 April 2014

Wahai Orang Yang Suka Meninggalkan Shalat Anda Yang Dimaksud Dalam Ayat Ini...



· 
- يا تـــاركــــ الـــصــــلاه أنـت المقصود بهذه الآيات القرانــية!!
WAHAI ORANG YANG SUKA MENINGGALKAN SHALAT, ANDA  YANG DIMAKSUDKAN DALAM AYAT AL QUR’AN BERIKUT  INI : 


أنت المقصود تقوله تعالى: { فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا (59)
إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُوْلَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئًا }(سورة مريم)
Anda  yang dimaksudkan dalam firman Allah ini ; “ Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. ( QS maryam : 59)

أنت المقصود بقوله تعالى:{يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلا يَسْتَطِيعُونَ (42) خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ (43)}(سورة القلم)
Anda  yang dimaksudkan dalam firman Allah ini ; Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa,  (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera. ( Qs Al Qalam : 42-43).

أنت المقصود بقوله تعالى:{ مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ (42) قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ (43)}(سورة المـدثر)
Anda  yang dimaksudkan dalam firman Allah ini ; "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?" Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan salat, ( QS Al Mudatsir : 42-43).


أنت المقصود بقوله تعالى:{ وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ارْكَعُوا لا يَرْكَعُونَ (48) وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ (49)}(سورة المرسلات)
Anda yang dimaksudkan dalam firman Allah ini ; Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ruku'lah", niscaya mereka tidak mau rukuk. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. ( QS Al Mursalat: 48-49).


أنت المقصود بقوله تعالى: { فَلا صَدَّقَ وَلا صَلَّى (31) وَلَكِنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّى (32) ثُمَّ ذَهَبَ إِلَى أَهْلِهِ يَتَمَطَّى (33) أَوْلَى لَكَ فَأَوْلَى (34) ثُمَّ أَوْلَى لَكَ فَأَوْلَى (35) أَيَحْسَبُ الإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى (36)}(سورة القيامة)
Anda  yang dimaksudkan dalam firman Allah ini ; Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al Qur'an) dan tidak mau mengerjakan salat, tetapi ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran), kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong). Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu. Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)? ( QS Al Qiyamah: 31-36).

Mari Bertaubat Kepada Allah



MARI BERTAUBAT KEPADA ALLAH 


يقول الشيطان : أهلكت بني آدم بالذنوب فأهلكوني بالإستغفار
syaithan berkata : aku hancurkan anak keturunan adam (dgn mengoda mereka ) untuk berbuat maksiyat , akan tetapi mereka menhancurkanku dengan segera beristighfar (memohon ampun ) kepada Allah

يقول الله سبحانه وتعالى اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا {} يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا {} وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

Allah Ta’alaa telah berfirman : "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. ( QS Nuh : 10 – 12)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ
Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, ( QS At Tahrim : 8 )

قَالَ رَسُوْلُ الله : ((يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إِلَى اللهِ فَإِنِّيْ أَتُوْبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ))
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Wahai manusia! Bertaubatlah kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya seratus kali dalam sehari.” (HR. Muslim 4/2076.).
تعال استغفر معي
Karena itu mari kita beristghfar kepada Allah :

أستغفر الله العظيم من كل ذنب أذنبته
Aku memohon ampun kepada Allah Yang maha Agung dari segala dosa yang telah aku perbuat
أستغفر الله العظيم من كل فرض تركته
Aku memohon ampun kepada Allah Yang maha Agung atas segala kewajiban yang aku tingalkan

أستغفر الله العظيم من كل إنسان ظلمته
Aku memohon ampun kepada Allah Yang maha Agung dari segala dosa kedholimanku kepada orang lain
 
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
‘Aku memohon  ampun kepada Allah Yang Maha Agung , tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, Yang Hidup dan terus-menerus mengurus makhlukNya

وَقَالَ : ((مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ، غَفَرَ اللهُ لَهُ وَإِنْ كَانَ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ))
Rasul Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang membaca: ‘Aku minta ampun kepada Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, Yang Hidup dan terus-menerus mengurus makhlukNya.’ Maka Allah mengampuninya. Sekalipun dia pernah lari dari perang.” (  HR. Abu Dawud 2/85, At-Tirmidzi 5/569, Al-Hakim, dan menurut pendapatnya hadits di atas adalah shahih. Imam Adz-Dzahabi menyetujuinya 1/511, Al-Albani menyatakan hadits tersebut adalah shahih. Lihat pula Shahih At-Tirmidzi 3/182, Jami’ul Ushul li ahaditsir Rasul 4/389-390 dengan tahqiq Al-Arnauth).

hendaklah khusnudhon kepada Sesama dan Kepada Allah



علينا بحسن الظن
HENDAKLAH KITA SELALU BERBAIK SANGKA 


أحس رجل بأن عاملاً فقيراً يمشى خلفه .. فقال الرجل فى نفسه:
Seorang pria merasa bahwa pekerja miskin berjalan di belakang-nya. Pria itu berkata dalam hatinya:

"هؤلاء الشحاذيين دائماً يلاحقوننا ليطلبوا مزيدا من المال..! "
"Para pengemis selalu mengejar kita untuk meminta lebih banyak uang...!"

فقال العامل الفقير للرجل: عفواً يا سيدي .. محفظتك سقطت منك ..
Katan pekerja miskin kepada laki-laki itu: Maaf tuan ... Dompet Anda jatuh dari saku anda ..
 
.
.الحمة
Hikmahnya :
هل عودت نفسك على حُسن الظن بالاخرين ؟
Apakah Anda membiaasakan diri  untuk husnudhon / berbaik sangka kepada orang lain?

فــ لتحسن الظن وتبدى حُسن النيه الى ان يثبت العكس
Karena itu hendaklah kita selalu berbaik sangka sehingga niat kita juga menjadi baik jangan sampai kebalikannya …  ( selalu berburuk sangka sehinggaapa yg terbersit  dlm hati kita menjadi jelak )
Ingatlah beberapa perkataan salaf berikut ini :
Al-Hasan al-Bashri berkata,
المؤمن أحسنَ الظنّ بربّه فأحسن العملَ ، وإنّ الفاجر أساءَ الظنّ بربّه فأساءَ العمل
"Sesungguhnya seorang mukmin selalu berhusnudzan kepada Tuhannya lalu ia memperbagus amalnya. Dan sesungguhnya seorang pendosa berpesangka buruk kepada Tuhannya sehingga ia berbuat yang buruk." (Diriwayatkan Imam Ahmad dalam al-Zuhd, hal. 402)


Ibnul Qayyim berkata,
وقد تبين الفرق بين حسن الظن والغرور ، وأن حسن الظن إن حمَل على العمل وحث عليه وساعده وساق إليه : فهو صحيح ، وإن دعا إلى البطالة والانهماك في المعاصي : فهو غرور ، وحسن الظن هو الرجاء ، فمن كان رجاؤه جاذباً له على الطاعة زاجراً له عن المعصية : فهو رجاء صحيح ، ومن كانت بطالته رجاء ورجاؤه بطالة وتفريطاً : فهو المغرور
"Telah nampak jelas perbedaan antara husnudzan dengan ghurur (tipuan). Adapun Husnuzan, jika ia mengajak dan mendorong beramal, membantu dan membuat rindu padanya: maka ia benar. Jika mengajak malas dan berkubang dengan maksiat: maka ia ghurur (tipuan). Husnuzan adalah raja' (pengharapan). Siapa yang pengharapannya mendorongnya untuk taat dan menjauhkannya dari maksiat: maka ia pengharapan yang benar. Sedangkan siapa yang kemalasannya adalah raja' dan meremehkan perintah: maka ia tertipu." (Al-Jawab al-Kaafi: 24)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: Allah Ta'ala berfirman,
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ في نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً
"Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus darinya. Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari." (HR. al-Bukhari dan Muslim)