Sabtu, 01 Februari 2014

Tiga Keutamaan Mengingat Mati

Tiga Keutamaan Mengingat Mati

Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

«أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ»،

“Perbanyaklah mengingat pemutus kledzatan (kematian)”
(HR An-Nasai dan dinilai oleh Syaikh Al-Albani : Hasan Shahih)

Sebagian ulama berkata :

من أكثر ذكر الموت أكرم بثلاثةٍ: تعجيل التوبة، وقناعة القلب، والنشاط في العبادة. ومن نسيه عوقب بثلاثة أشياء: تسويف التوبة وعدم الرضا بالكفاف، والتكاسل في العبادة.

Barang siapa banyak mengingat kematian maka ia akan dimuliakan dengan tiga perkara :

(1) selalu bersegera bertaubat
(2) hati yang qona’ah/nerimo, dan
(3) semangat dan rajin beribadah.

Dan barang siapa yang melupakan kematian maka ia akan dihukum dengan tiga perkara :

(1) menunda-nunda taubat
(2) tidak rido dengan pemberian Allah, dan
(3) malas dalam beribadah

Ditulis oleh Ustadz Firanda Andirja MA حفظه الله تعالى

Jumat, 31 Januari 2014

Tidak mengharapkan Didoakan Ketika Bersedekah Termasuk Kesempurnaan Ikhlas



من تمام الإخلاص
Termasuk Kesempurnaan Ikhlas


بسم الله، والحمد لله ، والصلاة والسلام على رسول الله ، أما بعد :.

* --- * --- * --- * --- * --- * --- * --- * --- * --- * --- *

من تمام الإخلاص أن لا يطلب المتصدق من المسكين الدعاء :
Termasuk kesempurnan ikhlas tidak meminta didoakan kepada penerima infaq dan sodaqoh kita  sebagaimana firman Allah Ta’alaa:

( إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا )
Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. ( Qs Al Insan : 9 )

{ إنما نطعمكم لوجه اللّه} أي رجاء ثواب اللّه ورضاه
Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah maknanya mengharap balasan dan keridhoan Allah semata  

 { لا نريد منكم جزاء ولا شكوراً} أي لا نطلب منكم مجازاة تكافئوننا بها ولا أن تشكرونا عند الناس
, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Maknanya kami tidak meminta kepada kalian balasan dan  imbalan  ataupun ucapan terima kasih dari manusia dan dihadapan manusia
(lihat tafsir Ibnu katsir QS al insan : 9 )

قال الشيخ ابن عثيمين :
" والدعاء من الجزاء ، لقول النبي صلى الله عليه وسلم :

" من صنع إليكم معروفاً فكافئوه ، فإن لم تجدوا ما تكافئوه فادعوا له "
As syeikh Muhamamad Shalih Al Utsaimin berkata :  meninta didoakan merupakan imbalan sebagaimana sabda Rasulullah – shalallahu ‘alahi wasallam - :


Barang siapa berbuat kebaikan kepadamu maka balaslah ( sebagai imbalan kebaikannya), jika engkau tidak mendapati yang semisal untuk membalas kebaikannya maka doakanlah dia .

ولا شك أن هناك فرقاً بين الإنسان يعطي لله عز وجل يريد التقرب إلى الله عز وجل ، وبين إنسان يقول : أعطيه من أجل أن يدعو لي. فرق بعيد ".
Tidak diragukan lagi tentu disana ada perbedaan yang mendasar  antara orang yang memberi karena Allah dan mengharapakan agar dekat dengan Allah , dengan orang yang memberi dan berkata : aku member kepadanya agar aku didoakan olehnya.





Keseimpulannya :


Oleh karena itu jika anda member, berinfaq atau bersodaqoh, janganlah berharap ucapan terima kasih atau agar didoakan oleh yang menerima pemberian kita atau mengarapkan agar rizki kita bertambah lebih banyak disbanding uang atau harta yang kita infaqkan, akan tetapi berharaplah balasan dan imbalan dari Allah akan tetapi jika kita didoakan maka itu tidak mengapa sebagaimana hadist Rasulullah tersebut diatas :
   

 [ جوال نور / الشيخ / محمد المنجد ]

( ditambahi tafsir dan kesimpulan) 


Munajat DIkala Resah

MUNAJAT DIKALA RESAH

اللهم أيقظ قلوبنا من الغفلات...

Ya Allah sadarkan hati kami dari segala kelalain

وطهر جوارحنا من المعاصي والسيئات...

Dan sucikan anggota badan kami dari segala maksiyat dan dosa

ونق سرائرنا من الشرور والبليات...
Dan bersihkan diri kami dari segala kejelekan dan musibah

اللهم باعد بيننا وبين ذنوبنا كما باعدت بين المشرق والمغرب...
Ya Allah, jauhkan antara kami dan kesalahan-kesalahan kami , sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat

. ونقنا من خطايانا كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس...
. Ya Allah, bersihkanlah kami dari kesalahan- kesalahan yang pernah kami lakukan, sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran.

واغسلنا من خطايانا بالماء والثلج والبرد...
Ya Allah, cucilah kami dari kesalahan-kesalahan kami dengan salju, air dan air es”


اللهم اختم بالصالحات أعمالنا...
Ya Allah matikan kami dalam keadaan beramal shalih

وثبتنا على الصراط المستقيم بالقول الثابت في الحياة الدنيا وفي الآخرة...
Dan kokohkan kami dalam meniti jalan yang lurus, dengan ucapan yang kokoh baik di dunia maupun diakherat kelak

اللهم اجعلنا من المتقين الذاكرين الذين...

إذا أساؤوا استغفروا
...
Ya Allah jadikan kami termasuk golongan orang yang bertakwa, Yang selalu Ingat ( berdzikir )kepadaMU , dan ketika berbuat salah selalu memohon ampun kepadamu.

وإذا أحسنوا استبشروا..
Dan selalu bahagai dan senang dalam berbuat kebaikan


Penyakit Mematikan


مـؤلـم للغـايـة :
Penyakit Mematikan 
 
عـندمـا نشـتـاق للأنترنت إذا تـركـنـاه يـومـاً أو يـومـين ...
Kita merasa rindu kpd internet jika kita tidak menjamahnya satu atau dua hari ...

و لا نـشـتاق لكـتـاب الله عـز و جـل إذا تـركـنـاه شهـوراً و أسـابيـع ...
Akan tetapi kita tidak pernah merasa rindu kepada kitabullah ( Al Qur'an ) ketika kita tidak menjamahnya sebulan Dan berminggu-minggu ... 
 
اللهم اهدينا و ثبتنا على الطريق المستقيم
Ya Allah tunjukilah kami Dan tetapkanlah kami diatas jalan lurus ...

Renungkanlah , semoga bermanfaat
 
 

3 Jenis Anak Menurut Al Qur'an



Ada 3 kategori anak, yg dicantumkan, Allah  dlm Al-Qur'an yaitu:


قُرَّتَ اَعْين
  (1.  menyejukkan mata dunia dan akhirat.

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa
(QS. Al-Furqon. 74)

 
زيْنَةُالْحَيَة.
  (2.  perhiasan kehidupan dunia.

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلا


Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS. Al Kahfi. 18 ayat 46)

فِتنَةُ وعَدُ وَّا
  3. Fitnah dan Musuh

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ #إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.
(QS. Attaghabun. 64 ayat 14 dan 15)
Sudah tugas kita orang tua mendidik anak kita, karena nanti kita di akhirat ditanya ttg bagaimana kita "mendidik anak" kita .

ما من مولود إلا يولد على الفطرة ، فأبواه يهودانه وينصرانه ويمجسانه

Tiap bayi dilahirkan suci, ayah ibunyalah yg akan menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi,(Hadis Bukhari)

الأُمُّ مَدْرَسَةٌ إذَّا أَعْدَدتَّهَا


أَعْدَدتَ شَعْبًا طَيِّبَ الأعْرَاقِ

Ibu adalah madrasah jika engkau mempersiapkannya
Dengan mempersiapkannya berarti telah menyiapkan generasi yang harum namanya

Maka kemanakah kita akan mengarahkan dan mendidik anak-anak kita apakah : qurratul ‘ain atau zinatul hayat ataukah udwanan dan fitnah


Utamakan Husnudhon Jauhi Su'udhon

علينا بحسن الظن
HENDAKLAH KITA SELALU BERBAIK SANGKA

أحس رجل بأن عاملاً فقيراً يمشى خلفه .. فقال الرجل فى نفسه:
Seorang pria merasa bahwa pekerja miskin berjalan di belakang-nya. Pria itu berkata dalam hatinya:

"هؤلاء الشحاذيين دائماً يلاحقوننا ليطلبوا مزيدا من المال..! "
"Para pengemis selalu mengejar kita untuk meminta lebih banyak uang...!"

فقال العامل الفقير للرجل: عفواً يا سيدي .. محفظتك سقطت منك ..
Katan pekerja miskin kepada laki-laki itu: Maaf tuan ... Dompet Anda jatuh dari saku anda ..

.
.الحمة
Hikmahnya :
هل عودت نفسك على حُسن الظن بالاخرين ؟
Apakah Anda membiasakan diri untuk husnudhon / berbaik sangka kepada orang lain?

فــ لتحسن الظن وتبدى حُسن النيه الى ان يثبت العكس
Karena itu hendaklah kita selalu berbaik sangka sehingga niat kita juga menjadi baik jangan sampai kebalikannya … ( selalu berburuk sangka sehinggaapa yg terbersit dlm hati kita menjadi jelak

ingatlah Firman Allah Berikut ini : 

 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan (zhan) karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa. ” (Al-Hujurat: 12)

 Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman melarang hamba-hamba-Nya dari banyak persangkaan, yaitu menuduh dan menganggap khianat kepada keluarga, kerabat dan orang lain tidak pada tempatnya. Karena sebagian dari persangkaan itu adalah dosa yang murni, maka jauhilah kebanyakan dari persangkaan tersebut dalam rangka kehati-hatian. Kami meriwayatkan dari Amirul Mukminin Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, ‘Janganlah sekali-kali engkau berprasangka kecuali kebaikan terhadap satu kata yang keluar dari saudaramu yang mukmin, jika memang engkau dapati kemungkinan kebaikan pada kata tersebut’. ” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/291)


 Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah menyampaikan sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ، وَلاَ تَحَسَّسُوْا، وَلاَ تَجَسَّسُوْا، وَلاَ تَنَافَسُوْا، وَلاَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهَ إِخْوَانًا كَمَا أَمَرَكُمْ، الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلاَ يَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَهُنَا، التَّقْوَى ههُنَا -يُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ- بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ، إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ، وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ

 
“Hati-hati kalian dari persangkaan yang buruk (zhan) karena zhan itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mendengarkan ucapan orang lain dalam keadaan mereka tidak suka. Janganlah kalian mencari-cari aurat/cacat/cela orang lain. Jangan kalian berlomba-lomba untuk menguasai sesuatu. Janganlah kalian saling hasad, saling benci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang Dia perintahkan. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, maka janganlah ia menzalimi saudaranya, jangan pula tidak memberikan pertolongan/bantuan kepada saudaranya dan jangan merendahkannya. Takwa itu di sini, takwa itu di sini. ” Beliau mengisyaratkan (menunjuk) ke arah dadanya. “Cukuplah seseorang dari kejelekan bila ia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain, haram darahnya, kehormatan dan hartanya. Sesungguhnya Allah tidak melihat ke tubuh-tubuh kalian, tidak pula ke rupa kalian akan tetapi ia melihat ke hati-hati dan amalan kalian. ” (HR. ِAl-Bukhari no. 6066 dan Muslim no. 6482)
Imam As-Syafii rahimahullah berkata :

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَقْضِيَ لَهُ بِالْحُسْنَى, فَلْيُحْسِنْ بِالنَّاسِ الظَّنَّ
 
"Barangsiapa yang ingin Allah menganugrahkan baginya husnul khootimah maka hendaknya ia berhusnudzon kepada orang-orang" (Mawaa'idz Al-Imaam As-Syafii)
Seakan-akan Imam Syafii mengingatkan bahwasanya berbaik sangka kepada orang lain akan menjauhkan seseorang dari banyak kedzoliman dan dosa besar yang muncul dari berburuk sangka, seperti ghibah dan namimah, serta praktek pemboikotan/hajr yang keliru..dll.
Selain itu orang yang mampu senantiasa untuk berhusnudzon maka akan senantiasa memiliki hati yang lembut…sayang kepada saudaranya…jauh dari hasad….tidak merendahkan orang lain..dll



Bakr bin Abdillah Al-Muzani rahimahullah berkata:
 
إيَّاك مِنَ الْكَلاَمِ مَا إِنْ أَصَبْتَ فِيْهِ لَم تُؤْجَرْ، وَإِنْ أَخْطَأْتَ فِيْهِ أَثِمْتَ، وَهُوَ سُوْءُ الظَّنِّ بِأَخِيْكَ
Waspadalah engkau dari perkataan yang jika engkau benar pada perkataan tersebut maka engkau tidak mendapatkan pahala, namun jika engkau salah maka engkau berdosa, yaitu suudzzon (berburuk sangka) kepada saudaramu" (Tahdziib At-Tahdziib 1/425)
Akan tetapi yang lebih tepat –wallahu a'lam- bahwasanya barangsiapa yang berburuk sangka maka ia tetap berdosa, meskipun persangkaannya

Apakah Hatimu Seterang Bualn Purnama

هي كالقمــر..
جميلــة ..نقيــة ..مضيئــة..
Dia bagaikan bulan purnama yg indah... cerah ... Dan bersinar kemilau...

♥تلك هي قلوبنا ما دامت تعيش في طاعة الله♥
Itulah ibarat hati kita selama kita selalu taat kepada Allah

♥و انها اذ خُسفت بالذنوب،♥
Krn itu jika tertutupi kelam karena perbuatan dosa

عليك بالاستغفار ليزول خسفها و يعود لها ضياؤها♥
Maka segeralah beristighfar mohon ampun kpd Allah agar tersingkap kelamnya dosa Dan bulan (hati) kita kembali bersih Dan kembali bercahaya kemilau


 اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.
 “Ya Allah! Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakan aku. Aku adalah hambaMu. Aku akan setia pada perjanjianku denganMu semampuku. Aku berlindung kepadaMu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmatMu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.”


اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوْبَتِكَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ، لاَ أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ.
 “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dengan keridhaanMu (agar selamat) dari kebencianMu, dan dengan keselamatanMu (agar terhindar) dari siksaanMu. Aku tidak membatasi pujian kepadaMu. Engkau (dengan kebesaran dan keagunganMu) adalah sebagaimana pujianMu kepada diriMu.”


سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ.
 “Maha Suci Engkau. Ya Allah, Tuhan kami, aku memujiMu. Ya Allah, ampunilah dosaku.”