ODOH 219
SUNNAHNYA ADAN 2 X DIWAKTU AKHIR MALAM
عَنْ عَبْدِ الله بْنِ عُمَرَ عَنْ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم
قَالَ: " إِنَّ بِلالا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ . فَكُلُوا حَتى يُؤَذن ابْنُ أم
مَكْتُوم".
Dari Abdullah Bin Umar Dari Rasulullah shalallahu 'alahi wasallam beliau
bersabda " sesungguhnya bilal itu adzan diwaktu malam, maka hendaklah
kalian makan dan minum (sahur ) sampai Ibnu Umii Maktum adan.
Makna Dan Faedah Hadist:
1. Dizaman Rasulullah ada 2 muadzin yaitu , bilal bin rabbah dan
Abdullah bin ummi maktum, hal ini menunjukkan bolehnya mengambil 2
muadzin dalam satu masjid dan hendaknya masing2 adzan pada waktunya yg
sudah ditentukan
2. Bilal adzan sebelum muncul fajar siddiq disaat kaum muslimin masih
tidur sehingga perlu persiapan sebelum masuk fajar, Hal ini menunjukkan
bolehnya adzan fajar sebelum masuk waktunya.
3. Bolehnya mengambil seorang yg buta utk menjadi muadzin dan
mengikutinya krn sesungguhnya Abdullah bin ummi maktum adalah seorang
sahabat yg buta.
4. Didalam hadist ini terdapat sunnahnya mengingatkan penduduk negri
atau suatu tempat utk melakukan adzan sebelum terbit fajar sehingga
mereka melaksanakan syariat itu diatas ilmu (membangunkan kaum muslimin
dengan adzan bukan dengan shalawatan yg keras dan terus menerus /
membaca Al qur'an disepeker masjid yg justru menganggu kaum muslimin yg
sedang qiyamul lail pent. )
5. Menjadikan muadzin yg kedua mengumandangkan adzan ketika terbit fajar siddiq ( masuk waktu subuh)
6. Sunnahnya tidak berhenti makan dan minum ( sahur ) bagi orang yg
hendak berpuasa sampai pasti bahwa fajar shadiq telah terbit ( dgn
dikumandangkan adzan subuh ), krn Allah berfiman kullu was robbu. (Makan
dan minumlah ..dst dan akhir waktu sahur adalah ketika adzan subuh
bukan dgn imsaq sebagaiamana kebiasan dinegri in, pent.)
7.Bolehnya beramal dgn khobar ahad ( berita dari satu orang ) apabila orang tsb dikenal stiqoh / dapat dipercaya.
Dinukil dr : Kitab Taisirul 'Alam syarah 'Umdatul Ahkam, Karya Abdullah
Shaleh Alu Bassam, Kitabus Sholat Bab Adzan wal Iqomah hadist no 63,
Jilid 1, hal : 109, Cet. Maktabah Ar Rossyid Riyadh – KSA
سُلَيْمَان اَبُوْ شَيْخَه
2837AECC / 287302DE
أَسْعَدَ اللّهُ اَيَّامَكُمْ
Semoga Allah Ta'alaa menjadikan hari-harimu penuh dgn kebahagiaan
Sent from BlackBerry®
Rabu, 25 Februari 2015
One Day One Hadist ( ODOH 218) SUNNAH MENJAWAB ADZAN KETIKA MENDENGARKAN ADZAN
One Day One Hadist ( ODOH 218)
SUNNAH MENJAWAB ADZAN KETIKA
MENDENGARKAN ADZAN
عَنْ أبي جُحَيْفَةَ وَهْبِ بْنِ عَبْدِ الله السُوَائي قالَ: أتيتُ النَّبيَ صلى الله عليه وسلم وهوَ في قُبّةٍ لَه
حَمرَاءَ مِنْ أدَم، قَالَ: فخَرَج بِلالٌ بوَضُوءٍ ، فَمِنْ نَاضِح وَنائِل
فَخَرَجَ النَّبيُّ صلى الله عليه وسلم وَعَلَيهِ
حُلَّةٌ حَمْرَاءُ كَأنّي أنْظرُ إلَى بياضِ سَاقَيهِ، قَالَ: فَتوَضأ وَأذّنَ
بِلال. قال: فَجَعَلْتُ أتَتَبَّع فَاهُ ههُنَا ههُنَا، يَقُولُ يَميناً
وشِمَالاً. حَي عَلَى الصَّلاةِ، حَيَّ عَلَى الفَلاح. ثُمَّ رُكِزَتْ لَهُ
عَنَزَة فَتَقَدَّم وَصَلّى الظهْرَ رَكعَتَينِ. ثُم لم يزَل يُصلي رَكْعَتَين
حَتَّى رَجَعَ إلَى المَدِينَةِ.
Dari abu juhaifah
wahb bin abdillah as suwa’i ( seorang sahabat nabi yang mulia ) dia berkata aku
mendatangi Rasulullah yang berada dalam kemah, dan beliau dalam keadaan membawa
tempat air dari kulit yang sudah disamak, Abu Juhaifah berkata ; lalu bilal
keluar dengan membawa bejana yang sudah berisi air untuk berwudhu , kemudian
bilal mengambil air wudhu yang dipakai oleh Rasulullah untuk mengharapkan
berkah, kemudian Rasulullah keluar dengan memakai baju yang berwarna merah, dan
saya ( kata Abu Juhaifah) melihat putihnya betis rasulullah, Abu Juhaifah berkata, maka Rasulullah
berwudhu disitu dan kemudian
bilal Adzan, aku mengikuti apa yang diucapkan oleh bilal dengan menoleh
kekanan, dan kekiri, dengan membaca hayaa ‘alash sholah dan hanyya ‘alaal
falah, lalu ditancapkan tongkat yang ada besi pada ujungnya kemudian beliau
mendekat kepada tongkat tersebut
kemudian shalat dhuhur dua rakaat, rasulullah terus melakukan shalat
shalat dua rakaat itu sampa beliau pulang kemadinah
Makna Dan Faedah
Hadist :
1.
Disyari’atkannya bagi
muadzin menoleh kekanan dan kekiri ketika mengucapkan hayaa ‘alash sholah
dan hanyya ‘alaal falah , hikmahnya adalah untuk menyampaikan suara itu
kepada orang-orang yang ada di sebelah kanan dan kiri masjid agar mereka segera
datang ke masjid untuk melaksanakan shalat berjama’ah
2.
Disyaria’tkannya menqoshor (meringkas)
sholat yang empat rakaat menjadi dua rakaat ketika dalam safar / bepergian
jauh.
3.
Disyariatkannya meletakkan
sutroh ( pembatas shalat ) didepan atau di hadapan orang yang shalat ( jika
tiadak ada pembatas seperti di tanah lapang , di masjid yg luas dsn ) sebagai
batasan dalam shalat dan sutrohnya makmum adalah imam, walaupun dimakkah.
4.
Sangat cintanya para
sahabat Nabi kepada Rasulullah sehingga mereka senantiasa mengambil berkah pada
bekas-bekas beliau akan tetapi yang demikian itu tidak boleh dilakukan kepada
selain Rasulullah seperti ulama, kyai, ustadz dsb, karena amalan ini adalah
kekuhususan untuk Rasulullah saja bukan pada yang lainnya maka barang siapa
yang mengqiaskan ( menyamakan ) hal tersebut ( mencari berkah ) kepada selain
rasulullah maka sungguh dia telah salah jalan dan keliru sekali.
5.
Dalam hadist- hadist
shahih banyak terdapat larangan bagi
laki-laki mengunakan baju yang berwarna merah polos sebagaimana yang terdapat
dalam Hadits Al Baro’ bin ‘Azib, ia
berkata,
نَهَانَا النَّبِىُّ – صلى الله عليه
وسلم – عَنِ الْمَيَاثِرِ الْحُمْرِ وَالْقَسِّىِّ
“Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami mengenakan ranjang (yang lembut)
yang berwarna merah dan qasiy (pakaian yang bercorak sutera).” (HR. Bukhari
no. 5838)
Dari Ibnu
‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,
نُهِيتُ عَنْ الثَّوْبِ الْأَحْمَرِ
وَخَاتَمِ الذَّهَبِ وَأَنْ أَقْرَأَ وَأَنَا رَاكِعٌ
“Aku
dilarang untuk memakai kain yang berwarna merah, memakai cincin emas dan
membaca Al-Qur’an saat rukuk.” (HR. An Nasai no. 5266. Syaikh Al Albani
mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)
Maka
bagaimana dengan apa yang telah disebutkan tadi bahwa Rasulullah mengunakan
pakaian berwarna merah ?
Ibnu
Qoyyim berkata : dalam kitabnya “ Al hadyu an nabawi “ atau “ Zadul ma’ad “ :
yang dimaksud kullah hamro’ ( dalam hadist diatas ) bukan merah murni namun merah yang ada
garis-garisnya
Saya
( syeikh ali bassam pent.) melihat guru saya ( syeikh Abdurrahman As Sa’diy
rahimahullah) memakai pakaian seperti itu untuk menunjukkan kebolehannya
Namun
yang Ahsan menjama’ hadist yang melarang dan membolehkan mengunakan pakaian
berwarna merah bagi laki-laki sebagaiaman pendapat Ibnu Qayyim yang menjama’
permasalahan ini, bahwa yang terlarang adalah “ mengunakan pakaian yang
berwarna merah murni ( polos ), maka bagaimanakah mengunakan pakaian yang
bergaris-garis ? wallahu a’lam bishowab
Untuk
detailnya pembahasan pakaian ini silahkan ruju :
3.
,و الله أعلم بالصواب
Dinukil dr : Kitab Taisirul 'Alam syarah 'Umdatul Ahkam, Karya
Abdullah Shalih Alu Bassam, Kitabus Sholat Bab Adzan wal Iqomah hadist
no 62, Jilid 1, hal : 104- 106, Cet. Maktabah Ar Rossyid Riyadh – KSA
سُلَيْمَان اَبُوْ شَيْخَه
2837AECC / 287302DE
2837AECC / 287302DE
أَسْعَدَ
اللّهُ اَيَّامَكُمْ
Semoga Allah Ta'alaa menjadikan hari-harimu penuh dgn kebahagiaan
Sent from BlackBerry®
Semoga Allah Ta'alaa menjadikan hari-harimu penuh dgn kebahagiaan
Sent from BlackBerry®
Senin, 16 Februari 2015
One Day One Hadist ( ODOH 217) BILANGAN ADZAN DAN IQOMAH
.
عَنْ أنس بْنِ مَالِك رَضيَ الله عَنْهُ قَالَ: أُمِر بلال أنْ يَشْفَعَ الأذَانَ وَيُوترَ الإقَامَةَ.
.
Dari Anas Bin Malik – radhiyallahu ‘anhu- berkata : Bilal diperintah ( oleh Rasulullah ) untuk mengenapkan bilangan adzan dan menganjilkan bilangan iqomah
.
Makna dan Faedah Hadist :
.
1. Rasulullah memerintahkan muadzin ( bilal ) untuk mengenapkan bilangan adzan, yaitu dua-dua selain takbir yang pertama karena menurut riwayat yang shahih empat kali dan kalimat tauhid yang terakhir satu kali.
.
2. Adapun iqomah Rasulullah memerintahkan untuk menganjilkannya, lafadzanya satu satu kecuali takbir dan qod qoomatil sholah keduanya dibaca dua kali sebagaimana disebutkan dalam hadist shahih lainnya.
.
3. Adzan dikumandangan untuk memberitahukan kepada mereka yang tidak hadir dimasjid agar segera menuju masjid untuk menunaikan shalat wajib secara berjamaah, sedang iqomah memberikan peringatan kepada hadirin bahwasanya shalat akan segera dilaksanakan.
.
4. Ulama berselisih pendapat dalam hukum adzan dan iqomah sbb :
.
a. Imam ahmad, sebagian madzab malikiyyah dan sebagian madzab syafi’iyyah serta atho’ berpendapat adzan dan iqomah hukumnya wajib kifayah bagi laki-laki yang sudah baligh, mereka berdalil dengan hadistbilal diatas karena menurut merika perintah itu menunjukkan wajib , dan hadist riwayat Imam bukhari dan muslim dari malik bin huwairist :
.
فَاليُؤَذنْ لكم أحَدُكُمْ "
.
Hendaklah salah seorang diantara kalian adzan untuk kalian ,
.
Dan juga hadist-hadist lainnya, karena merupakan syiar islam yang menonjol yang mana akan diperangi orang yang meningalkannnya. Ini bagi laki-laki saja adapaun bagi perempuan maka tidak wajib sebagaimana disebutkan dalam hadist riwayat Imam bukhari dari Ibnu Umar dengan sanad yang shahih :
.
لَيس عَلَى النسَاءِ أذَان وَلا إقامَة ".
.
Tidak ada adzan dan iqomah bagi wanita
.
Karena para wanita dianjurkan untuk merendahkan suara mereka dan tidak wajib bagi mereka berjama’ah bersama wanita yang lainnya
.
B. Hanafiyyah dan syafi’iyyah berpendapat bahwasanya adzan dan iqomah itu hukumnya sunnah dan tidak wajib , dengan dalil dengan hadist yang di shahihkan banyak ulama
.
“ bahwasannya pada suatu malam Nabi shalat ( ketika itu dimudzalifah ) tidak adzan tetapi iqomah saja ( hal ini perlu dilihat lagi riwayatnya ) namun hal ini dibantah dengan suatu hadist yang diriwayatkan oleh imam bukhari dari Ibnu mas’ud bahwasanya Rasulullah shalat jama’ di mudzalifah itu dengan dua adzan dan dua iqomah, namun keterangan dua adzan ini adakemungkinan benar atau salah cetak, wallahu a’lam bishowab.
.
Walaupun sunnah bagi sebagian ulama diatas namun mereka mengatakan “ apabila suatu negri bersepakat untuk meningalkan adzan maka merangilah mereka “ hal ini dinukilkan oleh syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Al ikhtiyarot “
.
5. Dari keterangan diatas syeikh Abdullah bin Abdurrahman Alu basyam mengatakan “ wajibnya adzan dengan dasar kaidah “
.
الاصل في الأمر للوجوب “
.
asal dari suatu perintah itu adalah wajib kecuali ada dalil / qorinah yang memalingkannya menjadi mustahab / sunnah, padahal perintah Rasulullah kepada bilal untuk adzan tersebut marfu’ sampai kepada rasulullah karena itu ibnu jarir mengatakan ini adalah pendapatnya ulama ahlul tahqiq dari dua kelompok ahlul hadist dan dan ushuliyyin .
.
6. Lebih penting adzan dibandingkan iqomah karena adzan untuk memangil orang yang jauh.,
.
و الله أعلم بالصواب
.
Dinukil dr : Kitab Taisirul 'Alam syarah 'Umdatul Ahkam, Karya Abdullah Shalih Alu Bassam, Kitabus Sholat Bab Adzan wal Iqomah hadist no 61, Jilid 1, hal : 105- 107, Cet. Maktabah Ar Rossyid Riyadh – KSA
.
سُلَيْمَان اَبُوْ شَيْخَه
2837AECC / 287302DE
.
أَسْعَدَ اللّهُ اَيَّامَكُمْ
Semoga Allah Ta'alaa menjadikan hari-harimu penuh dgn kebahagiaan
.
Sent from BlackBerry®
One Day One Hadist (ODOH-216) KEUTAMAAN 2 RAKAAT SEBELUM SUBUH
.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللّه عَنْهُمَا قَالَتْ لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ
النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ أخرجه الشيخان
Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma , ia berkata, "Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan satu pun shalat Sunnah yang dilakukan secara terus-menerus melebihi dua rakaat (shalat Rawatib) Subuh".[Mufaqun 'Alaihi]
Dalam riwayat Muslim :
.
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا. أخرجه مسلم.
.
Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda,"Dua raka'at fajar (Subuh) lebih baik dari dunia dan seisinya." [Muslim]
.
Makna Dan Faedah Hadist :
.
1. Hadist diatas menjelaskan pentingnya dan penekanan Rasululllah utk mengerjakan shalat sunnah 2 rakaat sebelum subuh.
.
2. Sunnah muakadnya 2 rakaat sebelum subuh krn itu tidak pastas utk ditingalkan.
.
3. Keutamaan yg besar dan mulia dlm 2 rakaat sebelum subuh sehingga dia lebih baik daripada dunia dan seisinya.
.
4. Rasulullah benarr2 memperhatikan 2 rakaat shalat sunnah ini dibandingkan dgn shalat sunnah lainnya , krn itu. Ibnul-Qayyim pun berkata, "Konsisten /terus. menerus dan penjagaan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap sunnah Rawâtib Subuh melebihi seluruh shalat sunnah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan sunnah Rawâtib Subuh dan shalat Witir dalam safarnya maupun saat muqîm. Dalam safar, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa disiplin melaksanakan sunah Rawatib Subuh dan Witir melebihi seluruh shalat-shalat sunnah dan Rawâtib lainnya. Tidak ada dinukilkan dari beliau dalam safarnya melakukan shalat Rawatib selain Rawâtib Subuh. Oleh karena itu, dahulu Ibnu 'Umar tidak menambah dari dua raka'at, dan ia berkata,'Saya telah bepergian bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Abu Bakar dan 'Umar. Mereka semua dalam safarnya tidak melebihi dua raka'at'."[Zâdul-Ma'ad (1/305).]
.
5. Bagi yg ketingalan 2 rakaat sebelum subuh krn shalat jama'ah sudah dimulai boleh diganti / dikerjakan setelah matahari terbit atau setelah shalat subuh langsung , ada riwayat dari Tirmidzi, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang belum menunaikan shalat sunnah Fajar, hendaklah ia menunaikannya setelah terbit matahari.” Karena Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah menunaikan qodho’ shalat sunnah fajar di waktu Dhuha
.
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, mufti Saudi Arabia di masa silam memilih lebih afdhol ditunaikan setelah matahari meninggi. Beliau menjelaskan,
.
“: إذا لم يتيسر للمسلم أداء سنة الفجر قبل الصلاة ، فإنه يخير بين أدائها بعد الصلاة أو تأجيلها إلى ما بعد ارتفاع الشمس ، لأن السنة قد ثبتت عن النبي صلى الله عليه وسلم بالأمرين جميعا ، لكن تأجيلها أفضل إلى ما بعد ارتفاع الشمس لأمر النبي صلى الله عليه وسلم بذلك ، أما فعلها بعد الصلاة فقد ثبت من تقريره عليه الصلاة والسلام ما يدل على ذلك” مجموع الفتاوى 11/373
.
“Jika seorang muslim tidak mampu menunaikan shalat sunnah fajar sebelum penunaian shalat Shubuh, maka ia boleh memilih menunaikannya setelah shalat Shubuh atau menundanya sampai matahari meninggi. Karena ada dalil (hadits) yang menunjukkan bolehnya kedua-keduanya. Akan tetapi jika menundanya sampai matahari meninggi itu lebih baik karen ada perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hal ini. Adapun qodho’ shalat sunnah fajar tadi setelah shalat Shubuh maka telah shahih pula dari ketetapan (taqrir) beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bolehnya. (Majmu’ Al Fatawa, 11: 373)
.
6. Sesungguhnya melalaikan / tidak melaksanakana 2 rakaat sebelum subuh, menunjukkan lemahnya agama seseorang dan terhalangnya dia dari kebaikan yg besar sementara 2 rakaat ini adalah perkaara mudah / ringan yg pahalanya sangat besar melebihi dunia dan seisinya.
و الله اعلم بالصواب
Semoga bermanfaat ..
.
Dinukil dr :
.
1. Kitab Zadul Ma'ad karya Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah Jilid 1 hal : 305 Fasal fi hadyihi fi sunanir rowatib, cet, Muasasah Ar Risalah Beirut Lebanon 2003 M/ 1424 H.
.
2. Kitab Taisirul 'Alam syarah 'Umdatul Ahkam, Karya Abdullah Shalih Alu Bassam, Kitabus Sholat Bab sunanur Rowatib, Hadist no 59, Jilid 1, hal : 101-102, Cet. Maktabah Ar Rossyid Riyadh - KSA
.
3. http://rumaysho.com/…/qodho-shalat-sunnah-qobliyah-shubuh-2…
.
سُلَيْمَان اَبُوْ شَيْخَه
287302DE / 2837AECC
.
أَسْعَدَ اللّهُ اَيَّامَكُمْ
Semoga Allah Ta'alaa menjadikan hari-harimu penuh dgn kebahagiaan .
Sent from BlackBerry®
One Day One Hadist (ODOH-215) SHALAT SUNNAH ROWATIB
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhu dia berkata:
حَفِظْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ
“Aku menghafal sesuatu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berupa shalat sunnat sepuluh raka’at yaitu; dua raka’at sebelum shalat zuhur, dua raka’at sesudahnya, dua raka’at sesudah shalat maghrib di rumah beliau, dua raka’at sesudah shalat isya’ di rumah beliau, dan dua raka’at sebelum shalat subuh.” (HR. Al-Bukhari no. 937, 1165, 1173, 1180 dan Muslim no. 729)
Ibnu Umar Radhiyallahu anhu, ia berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يُصَلِّي الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْجُمْعَةِ وَ لاَ الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ إِلاَّ فِيْ أَهْلِهِ
Dahulu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak shalat dua raka'at sesudah Jum'at dan dua raka'at setelah Maghrib, kecuali di rumahnya.
Makna Dan Faedah Hadist :
1. Hadist ini menjelaskan Sunnahnya shalat Rawatib yang mengiringi shalat fardhu lima waktu. Dan sebaiknya dilaksanakan secara kontinyu.
2. Shalat sunnah rowatib dhuhurr adalah : 2 rakaat sebelum dan 2 rakaat setelah dhuhur , utk hari jum'at 2 rakaat setelah jum'at, 2 rrakaat seteelah magrib, dan 2 rakaat setelahh isya' , 2 rakaat sebelum subuh.
3. Adapun kebiasaan shalat rowatib rasulullah keetika malam yaitu, 2 rakaat setelah magrib, 2 rakaat setelah isya' dan 2 rakaat sebelum subuh , 2 rakaat setelah. Jum'at beliau kerjakan drumah.
4. Dalam hadist shahih yg lainn, shalat sunnah rowatib dhuhur 6 rakaat yaitu 4 rakaat sebelum dan 2 rakaat sesudah dhuhur,
5. Shalat rawatib sebelum subuh sebaiknya ringkas tapi tetap dengan khusu' dan tumakninan
6.Sebagian rowatib yg dilakukan sebelum shalat wajib itu untuk mempersiapkan dirir agar. Dapat melaksanakan shalat wajib dgn baik dan benar, sedangkan yg sebagian dikerjakan setelah shalat wajib itu untuk menutupi kekurngan yg ddalam shalat wajib.
و الله اعلم بالصواب
Semoga bermanfaat ..
Faedah hadist Dinukil dr : Kitab Taisirul 'Alam syarah 'Umdatul Ahkam, Karya Abdullah Shalih Alu Bassam, Kitabus Sholat Bab sunanur Rowatib, Hadist no 59, Jilid 1, hal : 101-102, Cet. Maktabah Ar Rossyid Riyadh - KSA
سُلَيْمَان اَبُوْ شَيْخَه
287302DE / 2837AECC
أَسْعَدَ اللّهُ اَيَّامَكُمْ ♥♥
Semoga Allah Ta'alaa menjadikan hari-harimu penuh dgn kebahagiaan .
Minggu, 15 Februari 2015
ONE DAY ONE HADIST ( ODOH- 214 ) BOLEHKAH WANITA MENGHADIRI SHALAT BERJAMA’AH DI MASJID ?
.
عَنْ عَبْدِ الله بنِ عُمَرَ رَضيَ الله عَنْهُمَا عَنِ النبيِّ صَلى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " إِذَا استَأذَنت أحَدكُمُ امرأته إلى المسجد فَلا يَمْنَعْهَا " قال: فقال بلال بْنُ عَبْدِ الله: والله لَنَمْنَعُهُنَ. قالَ: فأقبل عَلَيْهِ عَبْدُ اللّه فَسَبَهُ سَبّاً سَيّئاً، ما سَمِعْتُهُ سَبهُ مِثْلَهُ قَط، وَقال: أخْبِرُكَ عن رَسُول اللّه صلى الله عليه وسلم وتقول: والله لَنمنَعُهُن؟!.
“ dari Abdullah bin umar dari nabi shalallahu ‘alaihi wasalam beliau bersabda : “ Apabila istri salah seorang dari kalian minta idzin untuk pergi kemasjid, maka janganlah engkau melarangnya” kemudian Abdullah bin umar berkata “ dan berkatalah Bilal bin Abdillah ( anaknya ) Demi Allah aku akan melarang mereka, kemudian Abdullah Bin Umar membalikkan wajahnya kepada Bilal lalu mencelanya dengan cacian yang jelek, yang saya tidak pernah mendengar celaan sejelek itu , kemudian Abdullah bin Umar brkata : “aku kabarkan kepadamu dari rasulullah sedangkan kamu mengatakan “ Demi Allah aku akan melarang mereka ‘
وفي لفظ لـ " لمسلم ": " لا تَمْنَعُوا إمَاءَ الله مَسَاجِدَ الله ".
Dan dalam lafadz Muslim Rasulullah bersabda “ janganlah engkau larang hamba-hamba Allah pergi kemasjid Allah ( ketika minta idzin untuk pergi kemasjid)
Makna dan Faedah Hadist :
1. Dianjurkan seseorang istri meminta idzin kepada suaminya ketika hendak shalat ke masjid jika ia ingin shalat berjama’ah di masjid .
2. Seorang wanita / istri diidzinkan pergi kemasjid jika dia memakai hijab /pakaian yang syar’i dan tidak menggunakan perhiasan/minyak wangi serta diperkirakan aman dari fitnah sebagaimana telah shahih dalam hadist-hadist yang lain.
3. Namun sebaiknya seorang wanita/istri shalat di rumah-rumah mereka sebagaimana disebutkan dalam hadist berikut ini :
لا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ. (رواه أبو داود في سننه باب ما جاء في خروج النساء إلى المسجد : باب التشديد في ذلك . وهو في صحيح الجامع 7458)
“Jangan kalian melarang isteri-isteri kalian shalat ke masjid. Akan tetapi rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.” (HR. Abu Daud, dalam sunannya, tercantum dalam kitab Shahih Al-Jami, 7458)
Bahkan, semakin shalatnya di tempat lebih tertutup dan lebih menyendiri, hal itu lebih baik lagi. Sebagaimana sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam: “Shalat seorang wanita di ruang tidurnya lebih baik dibandingkan shalatnya di ruang tengah. Dan shalatnya di ruang kecil di rumahnya, lebih baik dibandingkan shalatnya di ruang tidurnya.” (HR. Abu Daud dalam kitab sunan, tercantum dalam kitab Shahih Al-Jami’, no. 3833)
Dan juga hadist lain :
.
وعن أُمِّ حُمَيْدٍ امْرَأَةِ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ أَنَّهَا جَاءَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُحِبُّ الصَّلاةَ مَعَكَ قَالَ قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلاةَ مَعِي وَصَلاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ وَصَلاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاتِكِ فِي دَارِكِ وَصَلاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ وَصَلاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي مَسْجِدِي قَالَ فَأَمَرَتْ فَبُنِيَ لَهَا مَسْجِدٌ فِي أَقْصَى شَيْءٍ مِنْ بَيْتِهَا وَأَظْلَمِهِ فَكَانَتْ تُصَلِّي فِيهِ حَتَّى لَقِيَتْ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ . رواه الإمام أحمد ورجال إسناده ثقات
Dari Ummu Humaid, isteri Abu Humaid As-Sa’idy, sesungguhnya beliau datang (menemui) Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku suka shalat bersama anda engkau. Beliau menjawab: “Sungguh aku mengetahui bahwa engkau suka menunaikan shalat bersamaku, akan tetapi shalatmu di kamar tidurmu lebih baik dibandingkan shalatmu di ruang tengah rumahmu, dan shalatmu di ruang tengah rumahmu lebih baik dibandingkan shalatmu di masjid khusus rumahmu, dan shalatmu di masjid khusus rumahmu, lebih baik dibandingkan shalatmu di masjid di sekitar masyarakatmu, dan shalatmu di masjid sekitar masyarakatmu lebih baik dibandingkan shalatmu di masjidku. Kemudian dia (Ummu Humaid) minta dibangunkan baginya masjid (tempat shalat) di tempat paling ujung rumahnya dan paling gelap. Maka beliau shalat di sana sampai bertemu dengan Allah Azza Wa Jalla (wafat)." (HR. Ahmad, para perawinya tsiqah/terpercaya).
4. Jelas sekali bahwsaannya bolehnya minta idzin tersebut hanya untuk shalat, adapaun untuk mendengarkan peringatan ketika shalat ‘ied maka wajib bagi mereka untuk menghadirinya, sebagaimana hadist Ummu Atiyyah “ Rasulullah memerintahkan kami ( kaum wanita ) untuk keluar pada dua shalat Ied walaupun mereka berhalangan karana haid.
.
5. Kerasnya pengingkaran terhadap orang yang menentang sunnah Rasulullah , (sebagaimana Ibnu Umar mengingkari putranya Bilal ( dalam riwayat hanya disebutkan Ibnu Abdillah ), dimana bilal melihat zaman beliau sudah berubah tidak lagi seperti zaman rasululllah dimana semakin banyak wanita yang keluar rumah dengan segala macam perhiasan dan wangi-wangiannya , maka beliau ( bilal ) Merasa cemburu atas perilaku wanita tersebut , sama sekali bukan dalam rangka menentang sabda rasulullah / syari’at islam namun ayahnya memahami bahwa putranya ingin menentang hadist/sunnah Rasulullah , sehingga beliau benci kepada Anaknya karena Allah dan Rasulullah)
.
Maka bagaimana seandainya Ulama Salaf Terdahulu melihat wanita sekarang dimana mereka menampakkan bentuk-bentuk tubuhnya, mereka berpakaian namun pada hakekatnya adalah telanjang, dan mereka pergi kemasjid dengan sengaja memilih pakaian yang paling bagus dan memakai wangi-wangian , pakaian mereka ketat dan tipis sehingga nampak bentuk tubuhnya, dadanya, pantatnya, kemudian kepala mereka ditutupi dengan kain yang tipis dan kecil sehingga menimbukan fitnah karena tampak kecantikan dan kosmetik yang mereka gunakan untuk diperlihatkan kepada orang lain dan wanita ini senantiasa pergi ke tenggah kaum / keramaian laki-laki dan menampakkan apa yang ada pada dirinya sedangkan Rasulullah bersabda : Setiap wanita yang menggunakan wewangian, kemudian ia keluar dan melewati sekelompok manusia agar mereka dapat mencium bau harumnya, maka ia adalah seorang pezina, dan setiap mata itu adalah pezina.” (Riwayat Ahmad, an-Nasa’i, dan al-Hakim dari jalan Abu Musa al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu)
.
Kalau para ulama terdahulu melihat mereka akan tahu bahwa keluarnya wanita ini semata-mata hany auntuk membuat kerusakan mereka benar-benar tidak akan mengidzinkan istri-istriny kelaur rumah bahkan menyuruh istrinya untuk tinggal didalam rumah dan sangat menyedihka bahwa saat ini Hilangnya kecemburuan terhadap islam dari para wali-wali dan orang tua wanita zaman ini tidak ada lagi yang memperdulikan pakaian, aklaq dan tingkah laku istri dan anak-anak gadisnya dan nasehat tidak lagi terdengar waliyadhu billlah .
.
6. Orang yang mendengarkan hadist dan hendak menerangkan hadist rasulullah sepantasnya adalah sesui dengan makna yang diinginkan , dan hendaklah menjelaskan keterangan itu dengan adab, ihtirom ( rasa hormat ) dan sebaik-baiknya penjelasan.
,و الله أعلم بالصواب
Dinukil dr : Kitab Taisirul 'Alam syarah 'Umdatul Ahkam, Karya Abdullah Shalih Alu Bassam, Kitabus Sholat Bab Khudur An Nisa’ Al Masjid hadist no 58, Jilid 1, hal : 99- 100, Cet. Maktabah Ar Rossyid Riyadh – KSA
سُلَيْمَان اَبُوْ شَيْخَه
2837AECC / 287302DE
أَسْعَدَ اللّهُ اَيَّامَكُمْ
Semoga Allah Ta'alaa menjadikan hari-harimu penuh dgn kebahagiaan
Sent from BlackBerry®
One Day One Hadist (ODOH 213) HUKUMAN ORANG YG TIDAK SHALAT BERJAMAAH
- عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ . اهـ . حديث صحيح رواه. البخاري و مسلم - ولفظ مسلم
Dari Abu Hurairah - radhiyallahu 'anhu - berkata, Telah Bersabda Rasulullah - shalallahu 'alahi wasallam - shalat yg paling berat bagi orang2 munafiq adalah shalat isya' dan shalat subuh, seandainya mereka mengetahui keutamaan yg terdapat dalam 2 shalat tsb, sungguh mereka akan mendatangi walaupun dengan merangkak. Dan Aku (rasulullah) ingin menyuruh para sahabat utk melaksanakan shalat dan aku suruh salah seorang menjadi imam, kemudian aku pergi bersama beberapa orang dgn membawa kayu bakar kepada kaum yg tidak shalat berjama"ah, maka aku bakar rumah-rumah mereka dgn api (Hr Bukhari-Muslim , lafadz hadist ini dr muslim)
Makna Dan Faedah Hadist :
1. Sesungguhnya orang munafiq sangat berat menjalankan ibadah shalat terutama isya’ dan subuh ( dalam riwayat lain asyar juga pent.) , dan tidaklah mereka beribadah / ingat kepada Allah kecuali sedikit
2. Amalan-amalan yang dikerjakan orang munafiq hanyalah untuk mencari perhatian manusia ( riya’) dan dilihat/didengar orang ( sum’ah ) karena itu tidaklah mereka mendatangi shalat kecuali pada waktu-waktu orang lain dapat melihat mereka , (seperti magrib dan dzuhur pent. )
3. Keutamaan yang besar terdapat dalam shalat isya’ dan subuh, sehingga jika manusia tahu keutamaanya sungguh akan mendatanginya walaupun dengan merangkak.
4. Beratnya shalat isya dan shalat subuh ketika harus dikerjakan dengan berjama’ah, dan inilah yang ditunjukkan oleh konteks hadist tersebut, karena beratnya godaan ( tatkala) melaksanakannya dan kuatnya godaan untuk meninggalkannya.
5. Wajibnya shalat berjama’ah dimasjid bagi kaum laki-laki yang sudah baligh ( adapaun kaun wanita shalat dirumahnya lebih baik baginya akan datang penjelasannya insya Allah pent.)
6. Orang yang meninggalkan shalat berjama’ah tanpa udhur dia berhak mendapatkan hukuman dimana Rasulullah ingin membakar rumah orang yang tidak mau shalat berjama’ah.
7. Menolak mafsadah lebih didahulukan dari pada mengambil maslahat, dimana Rasulullah tidak jadi membakar rumah orang yang tidak shalat berjama’ah karena beliau khawatir mengadzab orang yang sebenarnya tidak berhak untuk diadzab yang ada didalam rumah itu seperti anak-anak kecil dan kaum wanita serta orang yang sakit/tua renta .
Bersambung hukum shalat berjama’ah berdasarkan hadist diatas in-sya Allah
و الله اعلم بالصواب
Dinukil dr : Kitab Taisirul 'Alam syarah 'Umdatul Ahkam, Karya Abdullah Shalih Alu Bassam, Kitabus Sholat Bab fadhlu sholatil jama'ah wa wujubuha hadist no 57, Jilid 1, hal : 95- 98, Cet. Maktabah Ar Rossyid Riyadh - KSA
سُلَيْمَان اَبُوْ شَيْخَه
2837AECC / 287302DE
Sent from BlackBerry®
Langganan:
Postingan (Atom)






